Skip to main content

SILAT DI DAERAH MINANGKABAU

 Silek Tuo Minangkabau (Silat  Tua)

Silat Tuo - Aliran silat yang dianggap paling tua yang turun dari daerah Pariangan, Padang Panjang, berkembang di kabupaten Lima Puluh Kota tetap dengan nama Silat Tuo tetapi penulis pernah bertemu dengan salah satu anak alm. Syekh Abdurrahman Kumango yang bernama Bpk Ismail Rahman dan penulis meminta sejarah silat Kumango dari beliu, dalam tulisan ketikan yang beliau serahkan, dijelaskan bahwa silat kumango juga bernama silat tuo dan ada  pendapat lain seperti yang ditulis pada situs wikipedia yang mengatakan bahwa silat ini mulanya dikembangkan oleh Tuanku Nan Tuo, salah seorang anggota Harimau Nan Salapan atau golongan paderi. Jika pendapat ini diterima, maka "Silat Tuo" di Minangkabau terinspirasi dari gerakan binatang seperti harimau, buaya dan kucing.[41]


  Dalam Silat Tuo Minangkabau dikenal        prinsip: Tangkis Jurus Satu, Serang Jurus    Dua.[42] Jadi pada awalnya ilmu persilatan  di Minangkabau ini mengajarkan pada anak  sasiannya (murid) untuk tidak memulai    perkelahian. Tangkis jurus satu mempunyai  makna, bahwa tugas utama setiap anak  sasian atau pesilat adalah menghindarkan  perkelahian. Sedangkan Serang jurus dua  mempunyai makna: bila musuh datang  setelah mengelakkan serangan baru boleh  menyerang.

Dan ilmu ini memang diajarkan secara harfiah dalam Silek Tuo. Tidak pernah diberi pelajaran bagaimana caranya membuka serangan. Tetapi pelajaran selalu dimulai dari cara "mangelak". Yaitu menghindarkan perkelahian. Setelah serangan musuh ditangkis, barulah terbuka jurus untuk menyerang.

Adapun Silat Toboh di Pariaman, Pangian di Tanah Datar dan Starlak di Sawahlunto, adalah juga berasal dari Silek Tuo. Tetapi telah dikembangkan dan dirubah di sana sini. Ilmu itulah yang kini dipakai oleh Pandeka Sangek. Silek Tuo dianggap lemah karena tidak boleh memulai serangan, dalam perkelahian orang diwajibkan menanti orang lain menyerang.
Silat Minangkabau atau disingkat dengan "Silat Minang" pada prinsipnya sebagai salah kebudayaan khas yang diwariskan oleh nenek moyang Minangkabau sejak berada di bumi Minangkabau.

Bila dikaji dengan seksama isi Tambo Alam Minangkabau yang penuh berisikan kiasan berupa pepatah-petitih ataupun mamang adat, ternyata Silek Minang telah memiliki dan dikembangkan oleh salah seorang penasehat Sultan Sri Maharaja Diraja yang bernama "Datuk Suri Diraja" ; dipanggilkan dengan "Ninik Datuk Suri Diraja" oleh anak-cucu sekarang.
Sultan Sri Maharaja Diraja, seorang raja di Kerajaan Pahariyangan (dialek: Pariangan ) . sebuah negeri (baca: nagari) yang pertama dibangun di kaki gunung Merapi bahagian Tenggara pad abad XII ( tahun 1119 M ).

Sedangkan Ninik Datuk Suri Diraja, seorang tua yang banyak dan dalam ilmunya di berbagai bidang kehidupan sosial. Beliau dikatakan juga sebagai seorang ahli filsafat dan negarawan kerajaan di masa itu, serta pertama kalinya membangun dasar-dasar adat Minangkabau; yang kemudian disempurnakan oleh Datuk Nan Baduo, dikenal dengan Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang.

Ninik Datuk Suri Diraja itulah yang menciptakan bermacam-macam kesenian dan alat-alatnya, seperti pencak, tari-tarian yang diangkatkan dari gerak-gerak silat serta membuat talempong, gong, gendang, serunai, harbah, kecapi, dll ( I.Dt.Sangguno Dirajo, 1919:18)
Sebagai catatan disini, mengenai kebenaran isi Tambo yang dikatakan orang mengandung 2% fakta dan 98 % mitologi hendaklah diikuti juga uraian Drs.MID.Jamal dalam bukunya : "Menyigi Tambo Alam Minangkabau" (Studi perbandingan sejarah) halaman 10.
Ninik Datuk Suri Diraja (dialek: Niniek Datuek Suri Dirajo) sebagai salah seorang Cendekiawan yang dikatakan "lubuk akal, lautan budi" , tempat orang berguru dan bertanya di masa itu; bahkan juga guru dari Sultan Sri Maharaja Diraja. (I.Dt. Sangguno Durajo, 1919:22).
Beliau itu jugalah yang menciptakan bermacam-macam cara berpakaian, seperti bermanik pada leher dan gelang pada kaki dan tangan serta berhias, bergombak satu,empat, dsb.

Ninik Datuk Suri Dirajo (1097-1198) itupun, sebagai kakak ipar (Minang: "Mamak Rumah") dari Sultan Sri Maharaja Diraja ( 1101-1149 ), karena adik beliau menjadi isteri pertama (Parama-Iswari) dari Raja Minangkabau tsb. Oleh karena itu pula "Mamak kandung" dari Datuk Nan Baduo.

Pengawal-pengawal Sultan Sri Maharaja Diraja yang bernama Kucieng Siam, Harimau Campo, Kambieng Utan, dan Anjieng Mualim menerima warisan ilmu silat sebahagian besarnya dari Ninik Datuk Dirajo; meskipun kepandaian silat pusaka yang mereka miliki dari negeri asal masing-masing sudah ada juga. Dalam hal ini dimaksudkan bahwa keempat pengawal kerajaan itu pada mulanya berasal dari berbagai kawasan yang berada di sekitar Tanah Basa (= Tanah Asal) , yaitu di sekitar lembah Indus dahulunya.

Kucieng Siam, seorang pengawal yang berasal dari kawasan Kucin-Cina (Siam); Harimau Campo, seorang pengawal yang gagah perkasa, terambil dari kawasan Campa ; Kambieng Utan , seorang pengawal yang berasal dari kawasan Kamboja, dan Anjieng Mualim, seorang pengawal yang datang dari Persia/Gujarat.

     Silek tuo lembah Merapi:

Sehubungan dengan itu, kedudukan atau jabatan pengawalan sudah ada sejak nenek moyang suku Minangkabau bermukim di daerah sekitar gunung Merapi di zaman purba; sekurang-kurangnya dalam abad pertama setelah timbulnya kerajaan Melayu di Sumatera Barat.

Pemberitaan tentang kehadiran nenek moyang (Dapunta Hyang) dimaksud telah dipublikasikan dalam prasasti "Kedukan Bukit" tahun 683 M, yang dikaitkan dengan keberangkatan Dapunta Hyang dengan balatentaranya dari gunung Merapi melalui Muara Kampar atau Minang Tamwan ke Pulau Punjung / Sungai Dareh untuk mendirikan sebuah kerajaan yang memenuhi niat perjalanan misi suci,maksudnya untuk menyebarkan agama Budha. Di dalam perjalanan suci yang ditulis/ dikatakan dalam bahasa Melayu Kuno pada prasasti tsb dengan perkataan: " Manalap Sidhayatra" (Bakar Hatta,1983:20), terkandung juga niat memenuhi persyaratan mendirikan kerajaan dengan memperhitungkan faktor-faktor strategi militer, politik dan ekonomi. Kedudukan kerajaan itupun tidak bertentangan dengan kehendak kepercayaan/agama, karena di tepi Batanghari ditemukan sebuah tempat yang memenuhi persyaratan pula untuk memuja atau mengadakan persembahan kepada para dewata. Tempat itu, sebuah pulau yang dialiri sungai besar, yang merupakan dua pertemuan yang dapat pula dinamakan "Minanga Tamwan" atau "Minanga Kabwa".

Akhirnya pulau tempat bersemayam Dapunta Hyang yang menghadap ke Gunung Merapi (pengganti Mahameru yaitu Himalaya) itu dinamakan Pulau Punjung (asal kata: pujeu artinya puja). Sedangkan kerajaan yang didirikan itu disebut dengan kerajaan Mianga Kabwa dibaca: Minangkabau.

Silat tuo di Batipuh
Silat Tiang Ampek termasuk silat tuo yang berkembang keluar dari Batipuah, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar waktu perang Batipuah melawan Belanda setelah perang paderi. Berkembang dulunya di Palembayan, simpang Batuhampar, Piladang, Tanjuang Alam- Agam, Sumarasok, Padang Tarok, Tanjuang Alam-Tanah Datar dan Tabek Patah. Silat tuo ini waktu pengembangan banyak disurau-surau yang guru-guru tuanya pengikut tarikat  (satariah ??? belum pasti, tetapi di dalam doa/tawasul, mereka menyebut Syech Burhanudin/Aba Burhan ) Silat ini bukan silat yang indah gerakannya tetapi silat praktis.Didaerah-daerah yang tersebut diatas cara-cara pengajarannya berbeda-beda;ada yang silat saja yang urutan-urutannya tergantung guru mengajar , dan  ada yang diajarkan dikalangan terbatas dengan pelajaran selain silat ,juga agama, adat,pengobatan. silat ini diajarkan sesudah bulan Ramadhan istrahat sebelum Ramadhan (7 x 40 hari atau 9 bulan 10 hari).Silat dengan cara ke dua diatas itu sendiri ada 4 tingkatan: (1) Maapa langkah jo sambuik (menghapal mangkah dan sambut).(2)Manyambuang langkah jo sambuik (menyambung langkah dan sambut)§  Bagaluik. (gelut)  (3)Maambiak raso (mengambil rasa, kira-kira sama dengan silat ghaib) tingkat empat ini babiliak ketek (murid terpilih diajar khusus) dalam ilmu bathin (gumam bathin). Saat ini perguruan ini sudah jarang terdengar karena umumnya tumbuh dilingkungan terbatas.

Silek tuo di Bukittinggi
Sekelompok pemuda terlihat berkumpul dilapangan nagari Lurah Tabek Tuhua, kelurahan Bukit Apit Puhun. Petunjuk waktu alis kalender baru berada di tahun 1980-an, sudah jauh dari masa ini. Sekitar pukul 20.00 Wib, ukuran waktu sekarang, pemuda-pemuda berkumpul dengan memakai atribut silat. Mereka berpakaian serba hitam dengan Deta dikepala. Tanpa banyak ba-bi-bu mereka langsung berkumpul, duduk bersila dilapangan mendengarkan aba-aba dan petunjuk dari guru mereka. Sebelum mereka mulai bersilat, mereka minta doa restu, bersalaman dengan guru-guru dan orang tua yang ikut menyaksikan mereka latihan silat.

Aliran silek Tuo yang berkembang di Nagari Tabek Tuhua ini merupakan aliran Silek Tuo Ranah Minang atau disebut juga dengan SILATURAHMI. Silek Tuo Ranah Minang ( Silaturahmi ) ini merupakan aliran dari Silek Tuo Buya Haji Abu Shamah (alm). Beliau memiliki beberapa orang murid yang terkenal di Bukittinggi diantaranya : Inyiak Datuak Palang Gagah ( alm ), dan Inyiak Haji Bagindo Ali ( alm ). Sekarang yang bertugas melestarikan Silek Tuo ini yaitu Inyiak/Mamak Yunis Dt.Rajo Mudo dan Inyiak Datuak Syafril St.Rajo Basa.[44]

Silek Tuo Ranah Minang ( Silaturahmi ) ini sudah sangat berkembang, murid-muridnya sudah cukup banyak. Salah satu factor yang menjadi motivasi bagi pemuda-pemuda di daerah Tabek Tuhua belajar Silek adalah selain memeliki pertahanan diri mereka juga ingin seperti Inyiak Datuak Syafril St.Rajo Basa tersebut karena beliau pada masa mudanya sudah banyak memperoleh prestasi yang cemerlang. Diantaranya :• Juara 1 Kejuruan Silek Tuo Traditional tahun 1983 di bukittinggi• Juara 1 Kejuaraan daerah Silek Tuo Traditional di Batusangkar tahun 1984.• Dan Juara 1 Kejuaraan Silek tuo Traditional di Bukittinggi tahun 1989

Bahkan yang lebih menarik lagi, beliau juga sering menerima murid dari luar negri seperti Malaysia, Australia dan Amerika untuk belajar silat traditional Minang Kabau dengan beliau.
Setelah beberapa pasang pemuda tadi berlatih, haripun sudah menunjukan pukul 23.00 Wib, pertunjukan tersebutpun usai, semua pemuda tersebut merasakan kepuasan dan kebahagiaan tersendiri karena mereka memeliki ilmu bela diri yang dapat digunakan untuk mempertahankan diri, serta yang paling membanggakan adalah mereka sudah ikut serta dalam melestarikan Silek Tuo Ranah Minang (silaturahmi) hingga sekarang

Comments

Popular posts from this blog

SEJARAH PERGURUAN IKS.PI KERA SAKTI

iks.pi kerasakti guru besar Perguruan Seni Ilmu Beladiri Kung Fu IKS.PI. Kera Sakti Merupakan kombinasi dari seni ilmu beladiri kungfu dataran Tiongkok Cina dengan pengembangan teknik ilmu beladiri yang dilakukan oleh pendiri sekaligus Guru Besar perguruan ini dan juga dengan penambahan teknik seni pernafasan ilmu tenaga dalam sebagai pelengkap dalam pelajaran perguruan.

SEJARAH SINGKAT SILAT CIMANDE

SEJARAH SINGKAT SILAT CIMANDE Berdasarkan alirannya, beladiri Pencak Silat yang ada di Jawa Barat dibagi berdasarkan beberapa aliran. Diantaranya Cimande, Cikalong, Syahbandar dan beberapa aliran lainnya lagi.

sejarah singkat sh winongo

sejarah pecahnya SH WINONGO dan SH TERATE SH TERATE DAN SH WINONGO “Setia-Hati” berdiri tahun 1903 oleh Khi Ngabehi Suro Diwiryo. Akar permasalaha pemicu pertentangan kedua kubu SHT dan SHW adl perbedaan ideologi antara Ki Ngabehi Suro Diwiryo dgn Hajar Hardjo Oetomo(murid eyang Suro).